Aku Kembali!

Halo kawan! Aku kembali!

Haaa. Sudah lama tidak menyentuh si ini Jejakkurcaci. Kalo hamil kayaknya udah pengajian 7 bulanan aja. Tapi untung gak hamil. Perumpamaan aja (bingung mikir yang lain).
Maafkan ya, padahal blog ini ada untuk sekedar pelipur lara kalo sedang ingin bercerita dan juga berbagi apapun yang sudah dilakukan atau dibuat. Tapi, karena ini sudah tahun yang baru, jadi pas nih untuk bersua lagi, memulai aktifitas baru, pengalaman baru, dan juga karya baru.

Berbicara soal tahun baru, pastinya sudah banyak banget resolusi yang sudah ditulis di benak atau buku di tahun ayam ini ya.
Wah selamat! Aku pun termasuk yang senang menuliskan resolusi apa aja yang bisa dilakukan atau diimpikan. Sayangnya sekarang belum buat. Telat haha (Oke, ini baru mau!).

Resolusi besar! Resolusi keren! Seperti apa? Pasti beda setiap orang kan ya.
Berkaca dari resolusi tahun kemarin, kebetulan aku tidak sama sekali menuliskan apa aja yang ingin dicapai atau dibuat. Bukan karena takut gagal, atau karena takut terlalu berandai-andai. Tetapi ada satu lain hal. Bagaimana rasanya kalo tidak membuat resolusi? Alhasil, ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang bisa dilihat pada akhir tahun bahwa apa aja yang sudah aku capai. Bahagia? Sayangnya ada sedikit kecewa saat tidak ada hasil yang bisa diceklis.
Ternyata, orang bilang “bahagia itu sederhana” memang benar. Sebahagia ketika bisa menulis bentuk ceklis di lembar kertas resolusi. Iya sederhana, sangat sederhana. Tetapi ketika melihat dibalik ceklisan itu, ada kisah yang mungkin susah atau gampang dari proses pencapaian itu sendiri.

Jadi, resolusi tahun ini apa?
Hmmmmm

Banyak banget ya kalo yang berseliweran di pikiran. Oia! Ada satu hal ingin dicapai! Untuk menerima diri lebih baik lagi. Menjadi pribadi yang apa adanya, menerima kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri. Klise ya? Sangat klise memang. Secara pribadi, itu salah satu kunci dimana resolusi lainnya akan sangat tercapai. Dengan mengetahui diriku secara mendalam, bisa tahu apa yang sebenarnya aku mau dan impikan sebenarnya. Bukan karena melihat resolusi orang lain yang mungkin sangat wah. Bukannya rumput tetangga selalu lebih hijau bukan? Siapa tau tidak cocok untuk kita.
Tenang, akupun masih seperti itu. Dengan zaman yang sudah sangat canggih, mengetahui berbagai informasi yang ada, bahkan melihat kegiatan teman atau orang lain yang bahkan kita tidak tau siapa-itu-punya-nama dan relasi dengan kita. Hanya melihat hasil tanpa melihat proses yang telah mereka lakukan. Semacam ada rasa “aku ngapain aja selama ini?”. Dan disanalah mulai mengubur kembali impian atau bahkan jadi amit-amit, iri. Santai, kalo kata pepatah lama itu “rejeki sudah ada yang atur”.

Aku adalah aku, kamu adalah kamu. Dengan segala impian kita masing-masing. Meskipun sama, pasti berbeda. Berbeda dari proses maupun cerita, atau bahkan rasa itu sendiri.
Tuhkan liat sendiri, dengan menulis ini, sudah bisa terbaca masih susah untuk menerima diriku sendiri.
Dengan sibuk melihat orang tampak-bahagia, tanpa melihat apa yang telah dilakukan dan membuat sekitar bahagia karena aku sendiri.
Dengan kadang merasa sendiri, tanpa sadar begitu banyak yang sangat peduli padaku.
Dengan merasa gagal, tanpa melihat berapa banyak keberhasilan yang sudah diraih.
Dengan semua rasa tidak yakin, tanpa melihat berapa banyak teman dan kawan yang selalu percaya dengan kemampuan pribadi yang bahkan selalu aku dianggap tidak bisa.
Iya, sangat dirasa bahwa semua datang dari diri yang tidak menerima, yang kadang terlupa dengan sebuah kata sederhana namun sangat bersahaja, SYUKUR.

Tahun ini, harus banyak bersyukur. Bersyukur atas apapun yang telah dijalani.
Bukan hanya bersyukur karena telah sukses, tetapi berani untuk tetap bersyukur ketika gagal. Karena aku tau, kegagalan dulu adalah yang bisa membuatku seperti sekarang ini. Bisa terus untuk berkarya dan juga melihat dunia. Tidak ada yang tidak beruntung, semua beruntung. Tergantung kita melihat dari kaca yang mana. Bukankah kaca syukur itu adalah salah satu yang paling menenangkan? Terlebih untuk pribadi yang tidak pernah puas (namanya juga manusia).

Tahun ini harus banyak menulis mimpi. Mimpi untuk bisa bangun pagi dan mulai menulis di buku jurnal baru dan juga di blog jejakkurcaci.
Tahun ini harus banyak makan buah. Ternyata enak juga makan buah naga langsung tanpa di jus dan pakai sendok.
Tahun ini harus banyak bertemu orang baru. Ternyata rame bisa mendengar dan mengetahui berbagai cerita orang. Menambah sudut pandang.
Tahun ini harus lebih banyak telepon ibu. Karena jarang pulang. Maafkan aku, Bu. Aku sangat sayang Mamah ko.
Tahun ini harus sering olahraga. Ternyata tidur bisa lebih nyenyak dan bisa lebih rileks itu benar adanya.
Tahun ini harus bisa sering kontrol ke dokter gigi. Ingin sekali lekas copot ini behel.
Tahun ini harus punya kamera. Sudah tidak enak sekali selalu dipinjamkan kawan.
Tahun ini harus nambah cap di paspor. Menarik sekali bisa melihat dunia.
Tahun ini, harus lebih……. lainnya aku tulis di jurnal. Kita lihat nanti di akhir tahun.
Apapun resolusinya, resolusi aku dan kamu, do’a dan usahanya tetap kencang.

Sebelum diakhiri, ada quotes yang singkat tapi menurutku dalam dari Cyril Cusack yaitu:

“If you asked me for my New Year Resolution,
it would be to find out who I am”.

 

Selamat menjalani hari-hari di 2017!

Salam sayang,
Jejakkurcaci

 

Advertisements

My Future Invitation Wedding! A Day with Ira as a Graphic Designer.

“She always puts every detail on her works! That was what I admire about her latest work on making a craft-fully wedding invitation for our lovely friend.”

Call her Ira! What a wonderful day spending time with her while she showed me the wedding invitation making process. The project that has been made for our closest friend.

Such a classy and elegant design she made for every piece of the invitation letters. I love the way she concerns about the detail that she puts into it, especially when she showed me how to make a font of alphabet manually.

By using a calligraphy marker as her special armor, a magnificent font finally came to the world! She made a calligraphic font because it was inspired by the background of the future bride who was originally came from one of the cities in West Java, Indonesia, called Cirebon.

Processed with VSCO with a6 preset

The invitation was inspired by story of the future groom and bride who has a different background. The story was about the thing that they both love and the major they have taken when they were in college. One was from majoring in oceanography, and the future bride was from textile craft, which turned into a lovely design that most of the colors, fonts, and sketches were inspired by the bride’s father who is a Batik Designer in town.

Processed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetThis is the favorite one! Her hands were softly dancing on the paper, making a cutie font by using her calligraphy marker. Every fonts she made were scanned into a digital to compile with other sketches. Not only that, she made all the design by manually sketching it. She made layer by layers to make it easy when she was coloring the sketches in digital. No wonder how crafty she is! Respect!

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 presetTa-da! These are the package of the wedding invitation letters!

Processed with VSCO with a6 preset

Dusty pink and brown were perfectly matched. It looks very sweet yet still incredibly elegant, especially when she puts the signature of the couple; roses and waves.

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

It was very delightful for having the opportunity to know and learn the story behind her works. My day was fully charged by her heartwarming piece of art. I hope she can make me a future wedding invitation that is very suitable with me (guess I have to seek my future wife soon).
Anyway, if you want to see more about her works, you can click by her name on instagram @iracarella or just click her magnificent portfolio on her sites iracarella.myportfolio.com

Have a great day! Keep discovering!

Love,
Jejakkurcaci

Hidden Gem in Singapore with JC

 

“I want to go to an unusual place which common tourists did not visit when in Singapore.” Fortunately, my friend had a great plan for my wishes. Yeay! 

Dakota! The first place I met with friend whom I knew through couchsurfing. It was almost late and I could not text him as I do not have Singapore number. I was a little bit feeling bad because he had to pick me at the station. He knew that I might be lost somehow. LOL

He is JC, a Filipino guy who loves photography. That was one of the reasons I was so eager to meet him because I was curious the way he uses his camera film, and how to bleach film in his mini studio at his house aside from I need a couch to sleep (that is what I did when was on a low budget yet still want to go travelling :3).

The next day, he took me to see one of the popular place which called Little India. I loved being there because people really enjoyed doing their roles. The man who was waiting his shop while Indian music was loudly beating my ears, a worker who was painting a white color onto a wooden wall, the one who just sat between colorful piles, passer-by who was taking their walk going to their destination, and me as a tourist.

Processed with VSCOProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 preset

To my surprise, I found myself gravitated towards a place he claimed to be rarely visited; a rooftop!

Firstly, he took me to Rochor Centre. He told me that most people here do not recognize this place. I glanced around, it was quiet. Only a group people doing ‘selfie’ together and taking a picture while jumping. The rooftop is in the middle between apartment. I only took several pictures because I’d rather enjoy the surrounding as we were talking about our interests on photography. He’s so into ‘street photography’, black and white pictures seemed as his signature.

Processed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 preset

this is what we did when we found an abandoned cabinet

Secondly, we went to Golden Mile Tower where you can find a bus terminal Singapore-Malaysia. We straight a walk to the rooftop by using lift. Here was more quiet than before. But it was worth to visit because I can see stadium and city landscape of Singapore right above here.

Processed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset
JC!
Processed with VSCO with a6 preset
photo taken by JC
10-2
Photo taken by JC using Kodak tri-x film, proceed with kodak d-76

It was just a day, unfortunately I could not discover more and learn how to do black and white film development in his studio because I flew back to Indonesia the next day. Yet, I was elated by his kindness to let me stay and met with another friend in house and had a great conversation between me, JC, and his friend who already became my friend as well, Edlyn.

P.S:
– You can do visit JC’s Instagram by searching his soulful pictures @jc_mono and jc_kolor. He has two Instagram account anyway, to separate between black and white and color pictures.
– Do not hesitate to ask me if you wanna go to the directions place I have visited in Singapore, I will very happy to answer.
– Have a lovely day!
🙂

jejakkurcaci.

A Binding Book with Imagiro

“Totoro!!!!” That was my first expression when I saw a beautiful work made by my lovely friend, Novita.

I glanced outside of my window, the weather still showed me how sad it was. Rainy morning.
It was 7 a.m. I decided to pull up my blanket and enjoyed the morning as comfy as I could. Today was my day off anyway, Saturyeay!
But, there’s something that I have to do, meeting with my friend, Novita! She’s my friend when we were in college and wanted to share with me something crafty that she’s been doing all this time. So exciteeeed!

We met in our campus because her studio wasn’t ready yet to visit.
My eyes were getting bigger as if a cute kitten widens his sparkling eyes when she showed me what she had in her bag. A bunch of colorful and beautiful notebooks. Yeap! Today she’s going to teach me how to bind a book.

I love the way she showed me her beautiful works by telling every books that she made her own self especially when she puts an eye catching illustrations. The uniqueness about her illustrations are mostly about Ghibli anime characters such as Totoro, Howls Moving Castle, Spirited Away, etc.

img_9967
These are heaven. I just can’t. Want to have them all!

img_9966
Totoro!!!

img_0001-copy

She told me that she’s not into Japanese style-mode. But, it just came in her mind when she was participating one of the Japanese festivals in Bandung by selling her artworks. Fortunately, her notebooks are sold out, even they were begging her to make a pre-order as their desires of having her works.

She named her notebook as Imagiro. That name came from the way she love the art of folding the paper from Japan which called Origami. That’s why most of her notebook are quadrilateral. And you know what? What I lovely Imagiro because she’s doing this with her lovely boyfriend. How sweet!

Processed with VSCO with a6 preset
Binding time!

Once she lends me the yarn, I was really confused how to start binding. It looks harder to do than saw her stitching the book effortlessly. She told me that she use basic binding, feston stitch as her signature. Sometimes she also use another type of stitching, but it’s arduous for her when the order was plentiful. Yet, it was delightful when she guided me patiently (I knew I tried my best Miss Novita :D).

It was such an honor for me because she told me that I am the first one who taught by her at binding. It was a pleasant time during listening her delightful story behind her Imagiro. I hope someday I can see when Imagiro can spread the happiness to people who own her artworks as I am.
I will definitely wait for your workshop, Novita.

P.S :
– I got the link in case you curious how to bind your own book. Kindly check http://www.instructables.com/id/How-to-bind-your-own-Hardback-Book/
– We can see her works by typing @helloimagiro on our Instagram. Don’t hesitate to say hello or ask anything to her. She’s a heartwarming girl I know. 😀

Have a lovely day! 🙂

Sablon Gemas bersama Ninositosis

“Dan! Sini kita main sablon-sablonan sekalian fotoin!” kata Ninis teriak via Line.

Sudah agak lama sebetulnya mau main sablon-sablonan. Tapi kesampaiannya baru sekarang-sekarang karena kebetulan doi ingin dokumentasikan behind the scene-nya pas sedang berkarya.

Yes! Doi ini katanya mau ada workshop sablon karena sekarang sudah jadi pengajar lepasan khusus di bagian tekstil. Kebetulan kesempatan kali ini  mau ngajar sablon. Kalo saya sih sebagai tim hore aja. Lumayan bisa belajar duluan (curi start biar pinter duluan lol).

Pasti sudah enggak aneh lagi kan sama yang namanya si sablon di telinga kamu-kamu. Mungkin simple-nya kalo di baju ada gambar atau tulisan, nah besar kemungkinan itu memakai teknik sablon meskipun sekarang sudah bisa pakai teknik print atau lainnya. Karena sablon merupakan teknik yang cukup lama juga (kalo masih penasaran bisa cari sejarah sablon ya, kalo disini entar kepanjangan hehe).

Pas liat pengerjaannya, susah-susah gampang sepertinya. Tetapi, karena tugas saya hanya mendokumentasikan saat doi berkarya jadi nanti saja kalo sudah beres baru mau coba. Dan ternyata, memang betul harus telaten. Apalagi saat menempelkan pasta sablon di screen untuk dipindahkan ke media yang akan di sablon (waktu itu medianya kain kanvas).

Alat-0ala

Ada yang menarik dan ingin diliat terus, kegemasan saat liat warna-warna yang dipilih untuk sablonnya. Ada warna pink Nicki Minaj, mint, kuning, dan warna cerah lainnya. Terus jadi bahagia sendiri deh apalagi pas sudah mulai keliatan pattern yang sudah jadinya. Hanya komposisi kumpulan titik, dipadu padan dengan guratan warna pink, hijau mint, dan kuning. Tapi bagus, imut, dan ingin segera dibuat apa aja semisal tempat pensil atau pouch.

 

Hunger Games dan Petang bersama Neneng

“, yang enak itu sudah makan kenyang, enak, gratis pula. Terus ngobrol ngalor-ngidul bersama kawan.”

Kalo sering lewat di Jalan Trunojoyo mungkin temen-temen pasti ngeuh atau pernah liat selewat nama cafe Cups Coffeshop. Tepatnya di jalan Trunojoyo nomor 25 Bandung, pas perempatan sebrang Rumah Buah (dulu namanya Total Buah).
Nah, kalo yang sudah tau CUPS, gimana nih makanan dan minumannya? Kata orang sih enak-enak apalagi tempatnya yang instagram-able. Dan bener! Kalo mampir kesana itu kita bisa lihat berbagai spot yang bisa kalian sekedar mengabadikan foto bersama teman, selfie?, atau foto apapun semacam foto pre-wed karena kadang kamu bisa lihat khususnya di weekend ada yang foto mesra (wiw :P).

Makanannya? Kebetulan dapet ajakan untuk icip-icip menu baru di sana. Namnaya Hunger Games! (cem film saja, jadi ingin nonton lagi kan film nya. Yuk!).
Setelah menunggu sambil berbincang bersama marketing sana, akhirnya dateng juga si Hunger Games. Kalo di judul menu gini tulisannya -> “HUNGER GAMES, 100% beef patty stacked with grilled beef bacon, crispy mushrooms, red cheddar cheese and French fries.” 

Terus rasanya? Syukurlah perut sudah penuh kembali bahkan untuk saya sih kekenyangan hehe. Bagian paling enak dari Hunger Games menurut saya itu si beef patty dan mushrooms nya. Meleleh banget dimulut! Gurih dan juga si jamurnya bikin ngangenin rasanya (susah kalo dideskripsikan sejujurnya, mending coba sendiri deh, masih belajar menjadi komentator makanan :P).

Seetelah puas melahap si kenikmatan duniawi Hunger Games, akhirnya lanjut ngobrol-ngobrol sama kawan yang biasa dipanggil Neneng. Kita kenal pas lagi di Flowershop tepatnya di sebelah cafe ini. Untungnya hari sudah petang dan cuacanya lagi enak untuk ngobrol sembari ditemani latte racikan sang barista Cups Coffeshop. Ngobrol ngalor-ngidul, icip sana icip sini yang ada di menu, dan pada akhirnya sesi photo! Seneng aja kalo udah megang kamera dan susananya lagi pas. Jekrek sana-jekrek sini, khusunya jekrek Neneng yang lagi minum kopi.

Langkah Pagi bersama Matahari Singapura

Pagi menurut kalian itu seperti apa sih?

Waktu itu, tepatnya mungkin sekitar 2 bulan lalu, saya pergi ke Singapura untuk pertama kalinya. Pertama kalinya enggak numpang pipis di bandara kalo sedang transit, tapi beneran nginjek tanahnya Singapura.

Untuk orang Indonesia mungkin sudah tidak aneh lagi kalo ingin mampir ke negara tetangga satu ini. Karena apa? Ya itu! Karena banyak sekali promo bahkan tiket murah yang kadang gratis untuk terbang kesana. Asal sediakan saja uang yang cukup untuk menghadapi biaya hidup sana yang sedikit beyond menurut saya.

Oke, lanjut ke cerita saya lagi.

Jadi waktu itu dapet kesempatan berkunjung kesana dan sempat tinggal di dorm salah satu kampus favorit negara ini, Nanyang Technological University a.k.a NTU. Kampus yang sepi karena mungkin waktu itu lagi pada libur mahasiswanya, tapi kesenengan karena gak harus ketemu banyak orang (lebih seneng sepi, jadi bisa bebas explore juga kan). Sempet ngira bagus-bagus gitu gedung tempat belajarnya, tapi ternyata itu semua dorm karena gedung pembelajarannya hanya ada di titik tertentu saja alias lebih banyak dorm-nya. Otomatis makin terkejut bin terpukau aja sama ini kampus. Mengingat tempat saya kuliah disini kan nge-kos, asrama pun rada jauh dari daerah kampus. Intinya merasa ingin kuliah disana waktu itu (tapi tetep, sudah bahagia juga ko bisa kuliah di Indonesia, bersyukur. he).

Saya menghabiskan satu malam saja disini. Namun, di pagi terakhir terpikir gak enak juga kalo tiduran saja selagi bisa menikmati pagi. Tanpa pikir panjang, bawalah kamera dengan pakaian masih baju tidur keluar dorm dan jalan pagi.

Sembari jalan dengan udara segar kampus, sebetulnya sedikit kesenengan juga karena baru tahu kalo disini itu ada jogging track khusus untuk yang ingin lari. Letaknya berdampingan dengan trotoar. Saat itu masih jalan di trotoar, tapi gatel juga pengen ke track jogging-nya. Akhirnya buka sendal alias nyeker menikmati tekstur track nya yang seperti terbuat dari busa, empuk gimana gitu (pokoknya khusus untuk lari aja, nyaman). Alhasil, gak kerasa aja udah jalan jauh sambil potret sana sini. Liat yang lagi jogging terus kadang saling liat karena mungkin aneh saya nyeker sendiri, liat yang sepedahan, liat gedung-gedung kampus (favorit saya gedung seni rupa), sampai terakhir ada taksi yang nanya dimana alamat gedung A dan saya gak bisa jawab (kan bukan mahasiswa sini, tapi bahagia aja mungkin dianggap mahasiswa NTU hehe).

pagi4pagi1pagi 5pagi 3pagi 2pagi 6pagi 7pagi 9pagi 8Photo credit: jejakkurcaci

Oia, itu cerita pagi saya. Tapi sempet terpikir gak pagi ideal kalian itu gimana? Kalo saya sih baru-baru ini lebih seneng bangun pagi karena:

  1. Harus shalat subuh
  2. Buka jendela kamar! Simple, tapi untuk saya itu adalah awal dimana saya mebuka hari pagi saya. menghirup udara pagi yang kadang terlalu dingin untuk hidung saya tapi seger.
  3. Tiduran sebentar sambil cek email, instagram, atau lihat 9gag (sekedar untuk pagi ceria)
  4. Lari pagi keliling komplek perumahan orang! Jangan lupa susun playlist untuk teman larinya. Saya sih lagu yang wajib ada sekarang-sekarang itu lagu:
    – Aurora, I Went Too Far
    – Years & Years, Desire
    – Lykke Li, I Follow Rivers
    – Phillip Philips,  Home
    – Jonas Blue | Dakota, Fast Car
  5. Beli pisang setelah cape lari ke pasar dekat kosan.

Selamat menjalani pagi menurut versi kalian! Semoga selalu menyenangkan. 🙂

Seruput Kopi di Jalan Braga No 111

“Dan, sini ke Braga 111!” Galih nge-whatsapp.

Dalam hati, dimana itu Braga 111… ternyata itu alamat cafe dimana saya dan Galih ketemu.
Yes! hari itu kami berencana ketemu bersama salah satu manajemen Cafe Myloc yang sebelumnya gak tau bahwa Myloc itu nama cafe (maafkan).

Pas sampe cafe tersebut, baru ngeuh ooo ternyata memang pernah kesini sekali tapi ya itu gak ngeuh sekali lagi (atau dasar gak peka sepertinya ehe ehe).

Rencana hari ini adalah untuk membicarakan proyek saya dan Galih bersama manajemen Myloc untuk memberikan sedikit karya kami dalam bidang mendokumentasikan menu ataupun tempatnya. Jujur tempatnya nyaman untuk sekedar nongkrong kalo sudah cape jalan-jalan sekitar Braga, atau mungkin ketemu seseorang yang sudah kenal atau baru kenal, rapat, ataupun me time. Favorit sih di bagian luar cafe karena ada tulisan nama cafe dengan hiasan lampu cem cem broadway atau mungkin yang biasa dipake mbak mbak atau mas mas perias yang di box itu. Selain bisa sambil liat orang dan kendaraan lalu lalang, enak juga kalo sama udara alami karena di dalam ber-ac (cuman kalo lagi panas ya mending di dalam saja).

Selain di luar, mungkin bisa juga dicoba naik ke lantai dua. Suasana lebih berwarna karena adanya mural dengan warna cerah sehingga mungkin bisa menaikkan mood yang tadinya lesu jadi sedikit bergairah (ceria mungkin ya, bergairah konotasinya cem cem ya itulah).

Menu yang ditawarkan beragam. Dari mulai dari Pasta hingga Tom Yum, Kopi hingga minuman bersoda, sampai beragam dessert dengan harga yang masih bisa dimaafkan dompet. Kalo mau rekomen sih coba aja Tom Yum nya, cocok untuk yang sedang kelaparan sama minumnya Strawberry Sparkle. Dijamin seger, nyeeees gt.

Kalo penasaran, boleh dateng langsung aja ke Jalan Braga no 111, buka setiap hari.
Atau tengokin aja Instagramnya @myloc_coffe untuk melihat beberapa dokumentasi proyek kami bersama Myloc.

P.S :

  1. Sapa aja barista atau pelayannya, pada baik ko. Kalo gak baik, sabar aja. Mungkin lagi galau cem cem penyakit kebanyakan zaman sekarang #loh
  2. Galih adalah teman saya + rekan proyek motret, cek saja Instagram kami @sundaydiaries 🙂

IMG_0976654321

IMG_4429IMG_4457IMG_4549IMG_4593IMG_4608-1IMG_20160405_174232

Obrolan Sore bersama Mutiara Cimaja yang Mendunia

“Kalo lihat berita tentang surfing, wah pasti orang-orang nganggep tempatnya di Hawaii!! Padahal itu di Indonesia loh!”

Kemarin Sabtu jadi hari hangat bersama sosok yang sangat membumi, karakter ramah dan juga selintingan candaan disetiap perbincangan, seorang surfer dunia dari Indonesia, Mang Dede.

Sebelumnya gak kebayang bisa ngobrol sama Mang Dede, dan malah sebelumnya biasa aja pas temen ngajak untuk proyek foto produknya di pantai yang ada di Sukabumi, Cimaja. Kebetulan juga deket sama kampung halaman, hanya 2 jam dari rumah dan yeah sampai.

Pertama juga ke pantai malem-malem jam 10 (maklum biasa ke pantai subuh terus bawa nasi liwet dan teman-teman untuk makan bareng sehabis berenang di pantai) . Dijemput temen pakai mobil Katana yang cukup untuk beberapa orang saja. Untungnya yang berangkat hanya 3 orang termasuk saya.

Asalnya duduk di depan, tapi akhirnya duduk di belakang. Bukan duduk, tapi tiduran karena gak ada jok, hanya tiker. Gapapa yang penting ada bantal dua biji. Jadi aja seperti mini kamar tidur selama perjalanan. Sempet kepikir ini jadi layaknya korban human trafficking, tapi nyaman sampai ketiduran selama perjalanan. Kebangun sih kalo ada jalan berlubang, tapi dasarnya pelor (nempel molor) jadi terus tidur.

Sampai lokasi sekitar jam 1 malam karena kepotong cari makan dulu di tengah perjalanan.

Sudah lama ternyata tidak bersentuhan dengan si pasir laut, sudah sepi juga karena sudah dini hari kemudian pergi istirahat di guest house Mang Dede yang ada disebelah rumahnya. Nyaman tempatnya. Lumayan bisa jadi alternatif menginap dilain waktu kalau-kalau ingin mampir kesini lagi bersama kawan atau keluarga, apalagi kalo mau sekalian belajar surfing.

Sejujurnya saat itu belum sangat mengenal sosok siapa Mang Dede, hanya denger terus dari teman. Keesokan harinya barulah bertemu beliau. Mang Dede sudah duduk sembari ngobrol di teras guest house. Untung sudah mandi, jadi pas ketemu gak terlalu malu. Hehe

Sempat malu mau kenalan, tapi eh ternyata sama-sama ngobrol sunda, jadi kesan hangat dari Mang Dede langsung terasa, jadilah ngobrolnya enak gak canggung, ngalir aja gitu.

Singkat cerita, setelah foto-foto produk kawan di pantai, kembalilah saya ke guest house untuk istirahat dan melihat-lihat alat surfing dan baju di toko milik Mang Dede yang ada di lantai satu rumahnya. Disana ceritalah kami tentang apapun, dari mulai perjalanan Mang Dede sepedahan selama kurang lebih 12 jam ke bukit dekat pantai yang ternyata masih bagus banget untuk didatangi, tapi sayang treknya masih susah, jadi harus dengan persiapan matang kalo mau kesana (nama tempatnya menyusul ya, kata Mang Dede pokoknya indaaah banget).

Setelah ngobrol ngalor ngidul, hal yang menarik dari Mang Dede adalah beliau sudah jatuh cinta sama si papan selancar dari umur 7 tahun, bukan karena paksaan orang tua, melainkan memang karena keinginan sendiri, karena senang dengan pantai, suka main ke pantai karena rumah deket dengan si ombak.

Dari kesenangan itulah Mang Dede bisa melihat dunia. Iya! Bisa terbang kesana kemari berkat apa yang Mang Dede suka, surfing. Asalnya ikut kompetisi kecil-kecilan di Cimaja pada tahun 1995, lama kelamaan ikut lomba di Bali pada tahun 1998 dengan predikat surfer termuda pada saat usia Mang Dede menginjak 11 tahun (terus mikir usia segitu mungkin saya masih main di sungai terus dimarahin ibu gegara kelamaan main air).

Saat itulah menjadi sebuah kebanggaan Mang Dede bisa ikut lomba keluar Jawa dan bisa keluar dari desa tercinta. Dari sanalah timbul kecintaan yang lebih lagi saat melihat surfer di Bali bisa jalan-jalan melihat dunia dengan menjadi surfer. Akhirnya berkat penawaran dari sponsor, Mang Dede pindah ke Bali pada saat setelah keluar SMP dan melanjutkan SMA di sana dengan  tetap melanjutkan latihan selancar di Pulau Dewata pada tahun 2001.

Berbagai kompetisi diikuti Mang Dede satu demi satu, karena pusat perlombaan selancar di Indonesia tepatnya selalu diselenggarakan di Bali. Sekolah tetap jalan, tapi berselancar terus dilakukan beriringan hingga bertemu dengan beberapa photographer dan juga videographer sehingga Mang Dede bisa muncul di koleksi foto atau video karena mereka menganggap seorang Mang Dede mempunyai bakat yang bisa dikembangkan.

Pada tahun 2003 menjadi pengalaman pertama bisa terbang keluar Indonesia untuk mengikuti kejuaraan selancar di Philippine kemudian terbang ke Hawaii selama 3 bulan untuk mengikuti kompetisi lainnya.

Kalo kata Mang Dede, Hawaii itu seperti Mekahnya umat peselancar, karena tiap tahun pas di musim penghujan, para surfer di seluruh dunia pasti pergi kesana untuk mengikuti kejuaraan dunia. Tapi beda! Perlombaan tidak bisa diadakan sesuai jadwal, harus lihat situasi dan kondisi pantai apakah ombaknya bisa untuk berselancar atau tidak. Jadi tetep, Tuhan yang berkuasa. Dikembalikan lagi pada alam.

Hawaii merupakan titik puncak karier Mang Dede sebagai surfer, karena Mang Dede berhasil menyabet Juara 1 pada kompetisi international mengalahkan Kelly Sletter sebagai surfer dunia yang selalu setia dengan titel juara dunianya. Namun pada kompetisi tersebut Kelly harus mengakui Mang Dede bahwa dia harus rela menjadi juara ke 2 setelah Mang Dede. Kompetisi tersebut adalah kompetisi khusus sebagai kompetisi mengenang surfer dunia Todd Chesser yang telah meninggal dunia saat di Waimea.

Saat itulah, nama Indonesia disebut-sebut dan menjadi bahan perbincangan di dunia surfing dan juga media. Berbagai sponsor pun berdatangan untuk menajdi bagian dari perjalanan Mang Dede menjadi seorang peselancar professional.

Pergi dari negara satu ke negara lainnya sudah bukan menjadi impian lagi untuk seorang Mang Dede, sangat diluar batas ekspektasi. Mang Dede hanya suka dengan ombak, bisa berteman tiap hari, namun sudah mengantarkan Mang Dede melihat dunia dan semakin cinta Indonesia.

Cinta Indonesia?? Yes! Mang Dede selalu bilang, pantai Indonesia itu gak kalah bagusnya dengan negara lain. Orang-orang awam saja yang melihat kalo ada video tentang surfing, pasti itu di Hawaii. Padahal itu di Indonesia loh! Di Bali! Di Mentawai! Karena menurut surfer luar yang Mang Dede temuin, Indonesia itu seperti Disney Land-nya untuk para peselancar. Karena berbagai macam ombak ada di Indonesia, dari mulai ombak kecil hingga besar. Kapanpun bisa main ombak di Indonesia, hampir setiap hari ada, enggak musiman.

Kalo di Sukabumi? Nah itu dia! Mang Dede berasal dari daerah bernama Cimaja (mungkin sebagian orang Sukabumi pun hanya sekedar tahu tanpa pernah datang ke sana, termasuk saya). Cimaja menjadi salah satu tempat untuk kompetisi dunia karena memiliki ombak yang bagus untuk para surfer.

Bangga juga jadi orang Sukabumi, meskipun bukan berasal dari Cimaja. Tapi gapapa, yang peting masih Sukabumi. *keukeuh

Saat ini Mang Dede tinggal di Cimaja, ditemani Istri dan anak semata wayangnya yang masih kecil, si neng cantik, sembari mengelola toko dan guest house untuk para peselancar yang ingin belajar atau bermain ombak pantai Cimaja.

IMG_5125

Gak kerasa sudah semakin sore saja. Harus sudah pulang lagi. Ngobrol dengan Mang Dede gak ada abisnya. Rame! Dari sana timbul kecintaan baru saya untuk Indonesia. Semakin banyak melakukan perjalanan, melihat dunia, semakin tumbuh pula cinta terhadap tanah air. Harapan Mang Dede adalah agar warga Indonesia semakin sadar bahwa pantai di Indonesia sangatlah kaya akan keindahan alamnya. Juga yang jelas ombaknya! Tetap jaga lingkungan dan kelestariannya. Jangan hanya eksis, tanpa memperhatikan kondisi sekitar.

Masih ingin ngobrol lagi, cerita-cerita lagi. Mungkin dilain waktu bisa kembali berjumpa dan cerita lagi, entah ngomongin pantai atau perjalanan Mang Dede.

Terimakasih Mang Dede, mutiara Cimaja yang mendunia!

Oia satu lagi deh. Dari obrolan tadi saya belajar bahwa tidak ada yang rugi dari mengerjakan sesuatu yang dicintai selagi itu positif. Lakukan terus saja, karena tidak ada yang lebih bahagia ketika melakukan apa yang kita sukai dan bisa membuahkan hasil untuk kehidupan kita, bahkan jika sampai di luar ekspektasi. Terus berkarya, terus menjalani irama kehidupan yang dicinta.

Sampai bertemu lagi Cimaja, semoga datang kesana bisa coba-coba menggoda ombak dengan papan selancar.

IMG_5119

IMG_5055

Hujan dan Lensa Sore Itu

H u j a n

“Selalu ada kerinduan dibalik hujan. 
Saya rindu pada memori saat hujan menjadi teman, selalu ada senyum dan tawa di dalamnya. Jeritan kawan  saling perang air, saling ciprat, berlari, bersama baju yang masih terpakai, bahkan itu adalah seragam sekolah. Pernah juga pulang-pulang langsung demam, tapi gak kapok. Senang!
Tidak perlu murung. Cukup tertawa, selagi hujan masih bersama.

Saya suka hujan di sore hari, dengan langit gelap yang kemudian berangsur terang, bahkan muncul pemanis, pelangi.
Saya suka hujan di sore hari, saat setelahnya timbul cahaya matahari sore mucul perlahan.
Saya suka hujan di sore hari, tapi tidak saat ini. Saat pemikiran sudah bercabang. Bukan hanya masalah main, tapi ada bagian lain. Bagian pemikiran persoalan hidup. 
Hidup bersama pemikiran dari berbagai masa, masa saat umur saya berada dalam masa 20 tahunan, muda tapi katanya masa transisi. Bukan hanya bahagia, tapi terpendam rasa yang lain, ada juga tentang kehilangan, kalut.
Secangkir teh hangat sedang bersama, duduklah saya melihat sekelompok air jatuh, iya si Hujan. Tapi tak ingin rasanya bersama membiarkan jatuh pada tubuhku, hanya ingin melihat, tidak ingin basah, iya melihat saja. Tenggelam bersama suasana, suasana sendu. Bahkan rindu.
Maafkan, sedang tidak bersama bahagia saat ini, hanya sedang merasa manusiawi dengan jiwa yang bisa dibilang bimbang.”

—–

Tulisan di atas, anggap saja sepenggal pemikiran yang lewat begitu saja.
Tentang perasaan, yang kadang disetiap hujan berbeda pula, mungkin bisa juga bahagia.

Namun hal yang saya percaya, hujan selalu mengingatkan saya pada memori, memori apapun.

Sempat terfikir, ingin sekali rasanya mengaplikasikan rasa itu lewat jepretan dari lensa kamera.
Ingin mem-visualisasi-kan rasa itu pada sebuah ukuran berbanding 3:2 atau 1:1 pada foto.
Iya, ingin menyampaikan perasaan saja.

Pada akhirnya, saat sedang melakukan proyek bersama kawan untuk foto produk, kebetulan sore itu hujan. Mengingatkan saya pada pemikiranku saat itu.
Mungkin bisa dikakukan sekarang, motret ah! Karena suasananya pun pas sekali, ada model pula.
Ya, saya ingin lebih fokus pada potrait manusia, tentang manusia dengan hujan. Lebih personal, tentang perasaan.

Saya coba memotret dengan menggunakan Canon 60D dapat pinjam dari teman dan senangnya sedang ada lensa fix 50mm f/1.4.
Oia, saya senang sekali kalo sudah bersama si lensa fix ngomong-ngomong, suka dengan blurnya atau kalo bahasa lainnya bokeh. hehe

Hal pertama yang dilakukan adalah dengan mengatur setting dengan ISO 400, f 2.8, 1/100.

Selanjutnya, yasudah jekrek-jekrek saja. 🙂

IMG_0318IMG_0321IMG_9927IMG_9992IMG_9968IMG_9960IMG_0329

—–
Bagaimana denganmu?
Suka dengan hujan?
Sering teringat memori apa?? 🙂