Hujan dan Lensa Sore Itu

H u j a n

“Selalu ada kerinduan dibalik hujan. 
Saya rindu pada memori saat hujan menjadi teman, selalu ada senyum dan tawa di dalamnya. Jeritan kawan  saling perang air, saling ciprat, berlari, bersama baju yang masih terpakai, bahkan itu adalah seragam sekolah. Pernah juga pulang-pulang langsung demam, tapi gak kapok. Senang!
Tidak perlu murung. Cukup tertawa, selagi hujan masih bersama.

Saya suka hujan di sore hari, dengan langit gelap yang kemudian berangsur terang, bahkan muncul pemanis, pelangi.
Saya suka hujan di sore hari, saat setelahnya timbul cahaya matahari sore mucul perlahan.
Saya suka hujan di sore hari, tapi tidak saat ini. Saat pemikiran sudah bercabang. Bukan hanya masalah main, tapi ada bagian lain. Bagian pemikiran persoalan hidup. 
Hidup bersama pemikiran dari berbagai masa, masa saat umur saya berada dalam masa 20 tahunan, muda tapi katanya masa transisi. Bukan hanya bahagia, tapi terpendam rasa yang lain, ada juga tentang kehilangan, kalut.
Secangkir teh hangat sedang bersama, duduklah saya melihat sekelompok air jatuh, iya si Hujan. Tapi tak ingin rasanya bersama membiarkan jatuh pada tubuhku, hanya ingin melihat, tidak ingin basah, iya melihat saja. Tenggelam bersama suasana, suasana sendu. Bahkan rindu.
Maafkan, sedang tidak bersama bahagia saat ini, hanya sedang merasa manusiawi dengan jiwa yang bisa dibilang bimbang.”

—–

Tulisan di atas, anggap saja sepenggal pemikiran yang lewat begitu saja.
Tentang perasaan, yang kadang disetiap hujan berbeda pula, mungkin bisa juga bahagia.

Namun hal yang saya percaya, hujan selalu mengingatkan saya pada memori, memori apapun.

Sempat terfikir, ingin sekali rasanya mengaplikasikan rasa itu lewat jepretan dari lensa kamera.
Ingin mem-visualisasi-kan rasa itu pada sebuah ukuran berbanding 3:2 atau 1:1 pada foto.
Iya, ingin menyampaikan perasaan saja.

Pada akhirnya, saat sedang melakukan proyek bersama kawan untuk foto produk, kebetulan sore itu hujan. Mengingatkan saya pada pemikiranku saat itu.
Mungkin bisa dikakukan sekarang, motret ah! Karena suasananya pun pas sekali, ada model pula.
Ya, saya ingin lebih fokus pada potrait manusia, tentang manusia dengan hujan. Lebih personal, tentang perasaan.

Saya coba memotret dengan menggunakan Canon 60D dapat pinjam dari teman dan senangnya sedang ada lensa fix 50mm f/1.4.
Oia, saya senang sekali kalo sudah bersama si lensa fix ngomong-ngomong, suka dengan blurnya atau kalo bahasa lainnya bokeh. hehe

Hal pertama yang dilakukan adalah dengan mengatur setting dengan ISO 400, f 2.8, 1/100.

Selanjutnya, yasudah jekrek-jekrek saja. 🙂

IMG_0318IMG_0321IMG_9927IMG_9992IMG_9968IMG_9960IMG_0329

—–
Bagaimana denganmu?
Suka dengan hujan?
Sering teringat memori apa?? 🙂

 

 

Advertisements

10 Comments Add yours

  1. notesofgie says:

    Aku sebaliknya, saat hujan malah banyak berharap soal masa depan. Karena kamu tau? Saat hujan adalah waktu dimana doa-doa akan dikabulkan 🙂

    Like

  2. effendidani says:

    🙂 🙂
    terimakasih.
    semoga selipan doa di setiap hujanmu bisa terkabul, kalaupun tidak ada yang terbaik untukmu.

    Like

  3. Teringat jejak-jejak hujan di masa lalu, tapi bukan mantan ya hahaha. Blog baru niih, merapat dong!

    Like

    1. effendidani says:

      Hahaha, nope. Tapi ada seuprit itu juga deh. Hahaha ayo atuh. Setelah kau sidang yak 😀

      Like

      1. awwwww. Ok then. I’ll let you know!

        Like

  4. Ayu Emil says:

    Percaya atau tidak, hujan turun dengan air dan inspirasi.
    Tak terhitung berapa banyak orang yang tersentuh hatinya untuk merenung. Tergerak hatinya untuk menulis. Dan terbuka hatinya untuk tersenyum setelahnya.

    Tapi bukan berarti panas matahari siang bolong cuma bisa bikin kulit terbakar.

    Keep writing 🙂

    Like

    1. effendidani says:

      aaaw, bagus sekaliii, setuju deh sama kamu. 🙂
      yuk ah ujan ujanan 😀 awas siapin t*lak angin 😀

      Like

      1. Hahaha… saya gak nyangka komen saya dibales. thank you.

        kindly visit my blog too.
        https://blog.djarumbeasiswaplus.org/ayuemiliandini/

        Like

  5. Suka banget sama fotonya, ngambilnya pake kamera dan lensa apa nih? Terus kalau ngedit biasanya pake apa yah?

    Like

    1. effendidani says:

      terimakasih banyak. 🙂
      waktu itu pakai kamera Canon 60D sama lensa fix f/1.4.
      kalau edit biasanya photoshop, tapi hanya main level, brightness, dan contrast. kebetuln untuk foto-foto diatas gak diesit, hanya di setting di kamera nya jadi hitam putih 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s