Obrolan Sore bersama Mutiara Cimaja yang Mendunia

“Kalo lihat berita tentang surfing, wah pasti orang-orang nganggep tempatnya di Hawaii!! Padahal itu di Indonesia loh!”

Kemarin Sabtu jadi hari hangat bersama sosok yang sangat membumi, karakter ramah dan juga selintingan candaan disetiap perbincangan, seorang surfer dunia dari Indonesia, Mang Dede.

Sebelumnya gak kebayang bisa ngobrol sama Mang Dede, dan malah sebelumnya biasa aja pas temen ngajak untuk proyek foto produknya di pantai yang ada di Sukabumi, Cimaja. Kebetulan juga deket sama kampung halaman, hanya 2 jam dari rumah dan yeah sampai.

Pertama juga ke pantai malem-malem jam 10 (maklum biasa ke pantai subuh terus bawa nasi liwet dan teman-teman untuk makan bareng sehabis berenang di pantai) . Dijemput temen pakai mobil Katana yang cukup untuk beberapa orang saja. Untungnya yang berangkat hanya 3 orang termasuk saya.

Asalnya duduk di depan, tapi akhirnya duduk di belakang. Bukan duduk, tapi tiduran karena gak ada jok, hanya tiker. Gapapa yang penting ada bantal dua biji. Jadi aja seperti mini kamar tidur selama perjalanan. Sempet kepikir ini jadi layaknya korban human trafficking, tapi nyaman sampai ketiduran selama perjalanan. Kebangun sih kalo ada jalan berlubang, tapi dasarnya pelor (nempel molor) jadi terus tidur.

Sampai lokasi sekitar jam 1 malam karena kepotong cari makan dulu di tengah perjalanan.

Sudah lama ternyata tidak bersentuhan dengan si pasir laut, sudah sepi juga karena sudah dini hari kemudian pergi istirahat di guest house Mang Dede yang ada disebelah rumahnya. Nyaman tempatnya. Lumayan bisa jadi alternatif menginap dilain waktu kalau-kalau ingin mampir kesini lagi bersama kawan atau keluarga, apalagi kalo mau sekalian belajar surfing.

Sejujurnya saat itu belum sangat mengenal sosok siapa Mang Dede, hanya denger terus dari teman. Keesokan harinya barulah bertemu beliau. Mang Dede sudah duduk sembari ngobrol di teras guest house. Untung sudah mandi, jadi pas ketemu gak terlalu malu. Hehe

Sempat malu mau kenalan, tapi eh ternyata sama-sama ngobrol sunda, jadi kesan hangat dari Mang Dede langsung terasa, jadilah ngobrolnya enak gak canggung, ngalir aja gitu.

Singkat cerita, setelah foto-foto produk kawan di pantai, kembalilah saya ke guest house untuk istirahat dan melihat-lihat alat surfing dan baju di toko milik Mang Dede yang ada di lantai satu rumahnya. Disana ceritalah kami tentang apapun, dari mulai perjalanan Mang Dede sepedahan selama kurang lebih 12 jam ke bukit dekat pantai yang ternyata masih bagus banget untuk didatangi, tapi sayang treknya masih susah, jadi harus dengan persiapan matang kalo mau kesana (nama tempatnya menyusul ya, kata Mang Dede pokoknya indaaah banget).

Setelah ngobrol ngalor ngidul, hal yang menarik dari Mang Dede adalah beliau sudah jatuh cinta sama si papan selancar dari umur 7 tahun, bukan karena paksaan orang tua, melainkan memang karena keinginan sendiri, karena senang dengan pantai, suka main ke pantai karena rumah deket dengan si ombak.

Dari kesenangan itulah Mang Dede bisa melihat dunia. Iya! Bisa terbang kesana kemari berkat apa yang Mang Dede suka, surfing. Asalnya ikut kompetisi kecil-kecilan di Cimaja pada tahun 1995, lama kelamaan ikut lomba di Bali pada tahun 1998 dengan predikat surfer termuda pada saat usia Mang Dede menginjak 11 tahun (terus mikir usia segitu mungkin saya masih main di sungai terus dimarahin ibu gegara kelamaan main air).

Saat itulah menjadi sebuah kebanggaan Mang Dede bisa ikut lomba keluar Jawa dan bisa keluar dari desa tercinta. Dari sanalah timbul kecintaan yang lebih lagi saat melihat surfer di Bali bisa jalan-jalan melihat dunia dengan menjadi surfer. Akhirnya berkat penawaran dari sponsor, Mang Dede pindah ke Bali pada saat setelah keluar SMP dan melanjutkan SMA di sana dengan  tetap melanjutkan latihan selancar di Pulau Dewata pada tahun 2001.

Berbagai kompetisi diikuti Mang Dede satu demi satu, karena pusat perlombaan selancar di Indonesia tepatnya selalu diselenggarakan di Bali. Sekolah tetap jalan, tapi berselancar terus dilakukan beriringan hingga bertemu dengan beberapa photographer dan juga videographer sehingga Mang Dede bisa muncul di koleksi foto atau video karena mereka menganggap seorang Mang Dede mempunyai bakat yang bisa dikembangkan.

Pada tahun 2003 menjadi pengalaman pertama bisa terbang keluar Indonesia untuk mengikuti kejuaraan selancar di Philippine kemudian terbang ke Hawaii selama 3 bulan untuk mengikuti kompetisi lainnya.

Kalo kata Mang Dede, Hawaii itu seperti Mekahnya umat peselancar, karena tiap tahun pas di musim penghujan, para surfer di seluruh dunia pasti pergi kesana untuk mengikuti kejuaraan dunia. Tapi beda! Perlombaan tidak bisa diadakan sesuai jadwal, harus lihat situasi dan kondisi pantai apakah ombaknya bisa untuk berselancar atau tidak. Jadi tetep, Tuhan yang berkuasa. Dikembalikan lagi pada alam.

Hawaii merupakan titik puncak karier Mang Dede sebagai surfer, karena Mang Dede berhasil menyabet Juara 1 pada kompetisi international mengalahkan Kelly Sletter sebagai surfer dunia yang selalu setia dengan titel juara dunianya. Namun pada kompetisi tersebut Kelly harus mengakui Mang Dede bahwa dia harus rela menjadi juara ke 2 setelah Mang Dede. Kompetisi tersebut adalah kompetisi khusus sebagai kompetisi mengenang surfer dunia Todd Chesser yang telah meninggal dunia saat di Waimea.

Saat itulah, nama Indonesia disebut-sebut dan menjadi bahan perbincangan di dunia surfing dan juga media. Berbagai sponsor pun berdatangan untuk menajdi bagian dari perjalanan Mang Dede menjadi seorang peselancar professional.

Pergi dari negara satu ke negara lainnya sudah bukan menjadi impian lagi untuk seorang Mang Dede, sangat diluar batas ekspektasi. Mang Dede hanya suka dengan ombak, bisa berteman tiap hari, namun sudah mengantarkan Mang Dede melihat dunia dan semakin cinta Indonesia.

Cinta Indonesia?? Yes! Mang Dede selalu bilang, pantai Indonesia itu gak kalah bagusnya dengan negara lain. Orang-orang awam saja yang melihat kalo ada video tentang surfing, pasti itu di Hawaii. Padahal itu di Indonesia loh! Di Bali! Di Mentawai! Karena menurut surfer luar yang Mang Dede temuin, Indonesia itu seperti Disney Land-nya untuk para peselancar. Karena berbagai macam ombak ada di Indonesia, dari mulai ombak kecil hingga besar. Kapanpun bisa main ombak di Indonesia, hampir setiap hari ada, enggak musiman.

Kalo di Sukabumi? Nah itu dia! Mang Dede berasal dari daerah bernama Cimaja (mungkin sebagian orang Sukabumi pun hanya sekedar tahu tanpa pernah datang ke sana, termasuk saya). Cimaja menjadi salah satu tempat untuk kompetisi dunia karena memiliki ombak yang bagus untuk para surfer.

Bangga juga jadi orang Sukabumi, meskipun bukan berasal dari Cimaja. Tapi gapapa, yang peting masih Sukabumi. *keukeuh

Saat ini Mang Dede tinggal di Cimaja, ditemani Istri dan anak semata wayangnya yang masih kecil, si neng cantik, sembari mengelola toko dan guest house untuk para peselancar yang ingin belajar atau bermain ombak pantai Cimaja.

IMG_5125

Gak kerasa sudah semakin sore saja. Harus sudah pulang lagi. Ngobrol dengan Mang Dede gak ada abisnya. Rame! Dari sana timbul kecintaan baru saya untuk Indonesia. Semakin banyak melakukan perjalanan, melihat dunia, semakin tumbuh pula cinta terhadap tanah air. Harapan Mang Dede adalah agar warga Indonesia semakin sadar bahwa pantai di Indonesia sangatlah kaya akan keindahan alamnya. Juga yang jelas ombaknya! Tetap jaga lingkungan dan kelestariannya. Jangan hanya eksis, tanpa memperhatikan kondisi sekitar.

Masih ingin ngobrol lagi, cerita-cerita lagi. Mungkin dilain waktu bisa kembali berjumpa dan cerita lagi, entah ngomongin pantai atau perjalanan Mang Dede.

Terimakasih Mang Dede, mutiara Cimaja yang mendunia!

Oia satu lagi deh. Dari obrolan tadi saya belajar bahwa tidak ada yang rugi dari mengerjakan sesuatu yang dicintai selagi itu positif. Lakukan terus saja, karena tidak ada yang lebih bahagia ketika melakukan apa yang kita sukai dan bisa membuahkan hasil untuk kehidupan kita, bahkan jika sampai di luar ekspektasi. Terus berkarya, terus menjalani irama kehidupan yang dicinta.

Sampai bertemu lagi Cimaja, semoga datang kesana bisa coba-coba menggoda ombak dengan papan selancar.

IMG_5119

IMG_5055

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s