Hidden Gem in Singapore with JC

 

“I want to go to an unusual place which common tourists did not visit when in Singapore.” Fortunately, my friend had a great plan for my wishes. Yeay! 

Dakota! The first place I met with friend whom I knew through couchsurfing. It was almost late and I could not text him as I do not have Singapore number. I was a little bit feeling bad because he had to pick me at the station. He knew that I might be lost somehow. LOL

He is JC, a Filipino guy who loves photography. That was one of the reasons I was so eager to meet him because I was curious the way he uses his camera film, and how to bleach film in his mini studio at his house aside from I need a couch to sleep (that is what I did when was on a low budget yet still want to go travelling :3).

The next day, he took me to see one of the popular place which called Little India. I loved being there because people really enjoyed doing their roles. The man who was waiting his shop while Indian music was loudly beating my ears, a worker who was painting a white color onto a wooden wall, the one who just sat between colorful piles, passer-by who was taking their walk going to their destination, and me as a tourist.

Processed with VSCOProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 preset

To my surprise, I found myself gravitated towards a place he claimed to be rarely visited; a rooftop!

Firstly, he took me to Rochor Centre. He told me that most people here do not recognize this place. I glanced around, it was quiet. Only a group people doing ‘selfie’ together and taking a picture while jumping. The rooftop is in the middle between apartment. I only took several pictures because I’d rather enjoy the surrounding as we were talking about our interests on photography. He’s so into ‘street photography’, black and white pictures seemed as his signature.

Processed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 preset

this is what we did when we found an abandoned cabinet

Secondly, we went to Golden Mile Tower where you can find a bus terminal Singapore-Malaysia. We straight a walk to the rooftop by using lift. Here was more quiet than before. But it was worth to visit because I can see stadium and city landscape of Singapore right above here.

Processed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset
JC!
Processed with VSCO with a6 preset
photo taken by JC
10-2
Photo taken by JC using Kodak tri-x film, proceed with kodak d-76

It was just a day, unfortunately I could not discover more and learn how to do black and white film development in his studio because I flew back to Indonesia the next day. Yet, I was elated by his kindness to let me stay and met with another friend in house and had a great conversation between me, JC, and his friend who already became my friend as well, Edlyn.

P.S:
– You can do visit JC’s Instagram by searching his soulful pictures @jc_mono and jc_kolor. He has two Instagram account anyway, to separate between black and white and color pictures.
– Do not hesitate to ask me if you wanna go to the directions place I have visited in Singapore, I will very happy to answer.
– Have a lovely day!
🙂

jejakkurcaci.

Advertisements

Langkah Pagi bersama Matahari Singapura

Pagi menurut kalian itu seperti apa sih?

Waktu itu, tepatnya mungkin sekitar 2 bulan lalu, saya pergi ke Singapura untuk pertama kalinya. Pertama kalinya enggak numpang pipis di bandara kalo sedang transit, tapi beneran nginjek tanahnya Singapura.

Untuk orang Indonesia mungkin sudah tidak aneh lagi kalo ingin mampir ke negara tetangga satu ini. Karena apa? Ya itu! Karena banyak sekali promo bahkan tiket murah yang kadang gratis untuk terbang kesana. Asal sediakan saja uang yang cukup untuk menghadapi biaya hidup sana yang sedikit beyond menurut saya.

Oke, lanjut ke cerita saya lagi.

Jadi waktu itu dapet kesempatan berkunjung kesana dan sempat tinggal di dorm salah satu kampus favorit negara ini, Nanyang Technological University a.k.a NTU. Kampus yang sepi karena mungkin waktu itu lagi pada libur mahasiswanya, tapi kesenengan karena gak harus ketemu banyak orang (lebih seneng sepi, jadi bisa bebas explore juga kan). Sempet ngira bagus-bagus gitu gedung tempat belajarnya, tapi ternyata itu semua dorm karena gedung pembelajarannya hanya ada di titik tertentu saja alias lebih banyak dorm-nya. Otomatis makin terkejut bin terpukau aja sama ini kampus. Mengingat tempat saya kuliah disini kan nge-kos, asrama pun rada jauh dari daerah kampus. Intinya merasa ingin kuliah disana waktu itu (tapi tetep, sudah bahagia juga ko bisa kuliah di Indonesia, bersyukur. he).

Saya menghabiskan satu malam saja disini. Namun, di pagi terakhir terpikir gak enak juga kalo tiduran saja selagi bisa menikmati pagi. Tanpa pikir panjang, bawalah kamera dengan pakaian masih baju tidur keluar dorm dan jalan pagi.

Sembari jalan dengan udara segar kampus, sebetulnya sedikit kesenengan juga karena baru tahu kalo disini itu ada jogging track khusus untuk yang ingin lari. Letaknya berdampingan dengan trotoar. Saat itu masih jalan di trotoar, tapi gatel juga pengen ke track jogging-nya. Akhirnya buka sendal alias nyeker menikmati tekstur track nya yang seperti terbuat dari busa, empuk gimana gitu (pokoknya khusus untuk lari aja, nyaman). Alhasil, gak kerasa aja udah jalan jauh sambil potret sana sini. Liat yang lagi jogging terus kadang saling liat karena mungkin aneh saya nyeker sendiri, liat yang sepedahan, liat gedung-gedung kampus (favorit saya gedung seni rupa), sampai terakhir ada taksi yang nanya dimana alamat gedung A dan saya gak bisa jawab (kan bukan mahasiswa sini, tapi bahagia aja mungkin dianggap mahasiswa NTU hehe).

pagi4pagi1pagi 5pagi 3pagi 2pagi 6pagi 7pagi 9pagi 8Photo credit: jejakkurcaci

Oia, itu cerita pagi saya. Tapi sempet terpikir gak pagi ideal kalian itu gimana? Kalo saya sih baru-baru ini lebih seneng bangun pagi karena:

  1. Harus shalat subuh
  2. Buka jendela kamar! Simple, tapi untuk saya itu adalah awal dimana saya mebuka hari pagi saya. menghirup udara pagi yang kadang terlalu dingin untuk hidung saya tapi seger.
  3. Tiduran sebentar sambil cek email, instagram, atau lihat 9gag (sekedar untuk pagi ceria)
  4. Lari pagi keliling komplek perumahan orang! Jangan lupa susun playlist untuk teman larinya. Saya sih lagu yang wajib ada sekarang-sekarang itu lagu:
    – Aurora, I Went Too Far
    – Years & Years, Desire
    – Lykke Li, I Follow Rivers
    – Phillip Philips,  Home
    – Jonas Blue | Dakota, Fast Car
  5. Beli pisang setelah cape lari ke pasar dekat kosan.

Selamat menjalani pagi menurut versi kalian! Semoga selalu menyenangkan. 🙂

Seruput Kopi di Jalan Braga No 111

“Dan, sini ke Braga 111!” Galih nge-whatsapp.

Dalam hati, dimana itu Braga 111… ternyata itu alamat cafe dimana saya dan Galih ketemu.
Yes! hari itu kami berencana ketemu bersama salah satu manajemen Cafe Myloc yang sebelumnya gak tau bahwa Myloc itu nama cafe (maafkan).

Pas sampe cafe tersebut, baru ngeuh ooo ternyata memang pernah kesini sekali tapi ya itu gak ngeuh sekali lagi (atau dasar gak peka sepertinya ehe ehe).

Rencana hari ini adalah untuk membicarakan proyek saya dan Galih bersama manajemen Myloc untuk memberikan sedikit karya kami dalam bidang mendokumentasikan menu ataupun tempatnya. Jujur tempatnya nyaman untuk sekedar nongkrong kalo sudah cape jalan-jalan sekitar Braga, atau mungkin ketemu seseorang yang sudah kenal atau baru kenal, rapat, ataupun me time. Favorit sih di bagian luar cafe karena ada tulisan nama cafe dengan hiasan lampu cem cem broadway atau mungkin yang biasa dipake mbak mbak atau mas mas perias yang di box itu. Selain bisa sambil liat orang dan kendaraan lalu lalang, enak juga kalo sama udara alami karena di dalam ber-ac (cuman kalo lagi panas ya mending di dalam saja).

Selain di luar, mungkin bisa juga dicoba naik ke lantai dua. Suasana lebih berwarna karena adanya mural dengan warna cerah sehingga mungkin bisa menaikkan mood yang tadinya lesu jadi sedikit bergairah (ceria mungkin ya, bergairah konotasinya cem cem ya itulah).

Menu yang ditawarkan beragam. Dari mulai dari Pasta hingga Tom Yum, Kopi hingga minuman bersoda, sampai beragam dessert dengan harga yang masih bisa dimaafkan dompet. Kalo mau rekomen sih coba aja Tom Yum nya, cocok untuk yang sedang kelaparan sama minumnya Strawberry Sparkle. Dijamin seger, nyeeees gt.

Kalo penasaran, boleh dateng langsung aja ke Jalan Braga no 111, buka setiap hari.
Atau tengokin aja Instagramnya @myloc_coffe untuk melihat beberapa dokumentasi proyek kami bersama Myloc.

P.S :

  1. Sapa aja barista atau pelayannya, pada baik ko. Kalo gak baik, sabar aja. Mungkin lagi galau cem cem penyakit kebanyakan zaman sekarang #loh
  2. Galih adalah teman saya + rekan proyek motret, cek saja Instagram kami @sundaydiaries 🙂

IMG_0976654321

IMG_4429IMG_4457IMG_4549IMG_4593IMG_4608-1IMG_20160405_174232

Obrolan Sore bersama Mutiara Cimaja yang Mendunia

“Kalo lihat berita tentang surfing, wah pasti orang-orang nganggep tempatnya di Hawaii!! Padahal itu di Indonesia loh!”

Kemarin Sabtu jadi hari hangat bersama sosok yang sangat membumi, karakter ramah dan juga selintingan candaan disetiap perbincangan, seorang surfer dunia dari Indonesia, Mang Dede.

Sebelumnya gak kebayang bisa ngobrol sama Mang Dede, dan malah sebelumnya biasa aja pas temen ngajak untuk proyek foto produknya di pantai yang ada di Sukabumi, Cimaja. Kebetulan juga deket sama kampung halaman, hanya 2 jam dari rumah dan yeah sampai.

Pertama juga ke pantai malem-malem jam 10 (maklum biasa ke pantai subuh terus bawa nasi liwet dan teman-teman untuk makan bareng sehabis berenang di pantai) . Dijemput temen pakai mobil Katana yang cukup untuk beberapa orang saja. Untungnya yang berangkat hanya 3 orang termasuk saya.

Asalnya duduk di depan, tapi akhirnya duduk di belakang. Bukan duduk, tapi tiduran karena gak ada jok, hanya tiker. Gapapa yang penting ada bantal dua biji. Jadi aja seperti mini kamar tidur selama perjalanan. Sempet kepikir ini jadi layaknya korban human trafficking, tapi nyaman sampai ketiduran selama perjalanan. Kebangun sih kalo ada jalan berlubang, tapi dasarnya pelor (nempel molor) jadi terus tidur.

Sampai lokasi sekitar jam 1 malam karena kepotong cari makan dulu di tengah perjalanan.

Sudah lama ternyata tidak bersentuhan dengan si pasir laut, sudah sepi juga karena sudah dini hari kemudian pergi istirahat di guest house Mang Dede yang ada disebelah rumahnya. Nyaman tempatnya. Lumayan bisa jadi alternatif menginap dilain waktu kalau-kalau ingin mampir kesini lagi bersama kawan atau keluarga, apalagi kalo mau sekalian belajar surfing.

Sejujurnya saat itu belum sangat mengenal sosok siapa Mang Dede, hanya denger terus dari teman. Keesokan harinya barulah bertemu beliau. Mang Dede sudah duduk sembari ngobrol di teras guest house. Untung sudah mandi, jadi pas ketemu gak terlalu malu. Hehe

Sempat malu mau kenalan, tapi eh ternyata sama-sama ngobrol sunda, jadi kesan hangat dari Mang Dede langsung terasa, jadilah ngobrolnya enak gak canggung, ngalir aja gitu.

Singkat cerita, setelah foto-foto produk kawan di pantai, kembalilah saya ke guest house untuk istirahat dan melihat-lihat alat surfing dan baju di toko milik Mang Dede yang ada di lantai satu rumahnya. Disana ceritalah kami tentang apapun, dari mulai perjalanan Mang Dede sepedahan selama kurang lebih 12 jam ke bukit dekat pantai yang ternyata masih bagus banget untuk didatangi, tapi sayang treknya masih susah, jadi harus dengan persiapan matang kalo mau kesana (nama tempatnya menyusul ya, kata Mang Dede pokoknya indaaah banget).

Setelah ngobrol ngalor ngidul, hal yang menarik dari Mang Dede adalah beliau sudah jatuh cinta sama si papan selancar dari umur 7 tahun, bukan karena paksaan orang tua, melainkan memang karena keinginan sendiri, karena senang dengan pantai, suka main ke pantai karena rumah deket dengan si ombak.

Dari kesenangan itulah Mang Dede bisa melihat dunia. Iya! Bisa terbang kesana kemari berkat apa yang Mang Dede suka, surfing. Asalnya ikut kompetisi kecil-kecilan di Cimaja pada tahun 1995, lama kelamaan ikut lomba di Bali pada tahun 1998 dengan predikat surfer termuda pada saat usia Mang Dede menginjak 11 tahun (terus mikir usia segitu mungkin saya masih main di sungai terus dimarahin ibu gegara kelamaan main air).

Saat itulah menjadi sebuah kebanggaan Mang Dede bisa ikut lomba keluar Jawa dan bisa keluar dari desa tercinta. Dari sanalah timbul kecintaan yang lebih lagi saat melihat surfer di Bali bisa jalan-jalan melihat dunia dengan menjadi surfer. Akhirnya berkat penawaran dari sponsor, Mang Dede pindah ke Bali pada saat setelah keluar SMP dan melanjutkan SMA di sana dengan  tetap melanjutkan latihan selancar di Pulau Dewata pada tahun 2001.

Berbagai kompetisi diikuti Mang Dede satu demi satu, karena pusat perlombaan selancar di Indonesia tepatnya selalu diselenggarakan di Bali. Sekolah tetap jalan, tapi berselancar terus dilakukan beriringan hingga bertemu dengan beberapa photographer dan juga videographer sehingga Mang Dede bisa muncul di koleksi foto atau video karena mereka menganggap seorang Mang Dede mempunyai bakat yang bisa dikembangkan.

Pada tahun 2003 menjadi pengalaman pertama bisa terbang keluar Indonesia untuk mengikuti kejuaraan selancar di Philippine kemudian terbang ke Hawaii selama 3 bulan untuk mengikuti kompetisi lainnya.

Kalo kata Mang Dede, Hawaii itu seperti Mekahnya umat peselancar, karena tiap tahun pas di musim penghujan, para surfer di seluruh dunia pasti pergi kesana untuk mengikuti kejuaraan dunia. Tapi beda! Perlombaan tidak bisa diadakan sesuai jadwal, harus lihat situasi dan kondisi pantai apakah ombaknya bisa untuk berselancar atau tidak. Jadi tetep, Tuhan yang berkuasa. Dikembalikan lagi pada alam.

Hawaii merupakan titik puncak karier Mang Dede sebagai surfer, karena Mang Dede berhasil menyabet Juara 1 pada kompetisi international mengalahkan Kelly Sletter sebagai surfer dunia yang selalu setia dengan titel juara dunianya. Namun pada kompetisi tersebut Kelly harus mengakui Mang Dede bahwa dia harus rela menjadi juara ke 2 setelah Mang Dede. Kompetisi tersebut adalah kompetisi khusus sebagai kompetisi mengenang surfer dunia Todd Chesser yang telah meninggal dunia saat di Waimea.

Saat itulah, nama Indonesia disebut-sebut dan menjadi bahan perbincangan di dunia surfing dan juga media. Berbagai sponsor pun berdatangan untuk menajdi bagian dari perjalanan Mang Dede menjadi seorang peselancar professional.

Pergi dari negara satu ke negara lainnya sudah bukan menjadi impian lagi untuk seorang Mang Dede, sangat diluar batas ekspektasi. Mang Dede hanya suka dengan ombak, bisa berteman tiap hari, namun sudah mengantarkan Mang Dede melihat dunia dan semakin cinta Indonesia.

Cinta Indonesia?? Yes! Mang Dede selalu bilang, pantai Indonesia itu gak kalah bagusnya dengan negara lain. Orang-orang awam saja yang melihat kalo ada video tentang surfing, pasti itu di Hawaii. Padahal itu di Indonesia loh! Di Bali! Di Mentawai! Karena menurut surfer luar yang Mang Dede temuin, Indonesia itu seperti Disney Land-nya untuk para peselancar. Karena berbagai macam ombak ada di Indonesia, dari mulai ombak kecil hingga besar. Kapanpun bisa main ombak di Indonesia, hampir setiap hari ada, enggak musiman.

Kalo di Sukabumi? Nah itu dia! Mang Dede berasal dari daerah bernama Cimaja (mungkin sebagian orang Sukabumi pun hanya sekedar tahu tanpa pernah datang ke sana, termasuk saya). Cimaja menjadi salah satu tempat untuk kompetisi dunia karena memiliki ombak yang bagus untuk para surfer.

Bangga juga jadi orang Sukabumi, meskipun bukan berasal dari Cimaja. Tapi gapapa, yang peting masih Sukabumi. *keukeuh

Saat ini Mang Dede tinggal di Cimaja, ditemani Istri dan anak semata wayangnya yang masih kecil, si neng cantik, sembari mengelola toko dan guest house untuk para peselancar yang ingin belajar atau bermain ombak pantai Cimaja.

IMG_5125

Gak kerasa sudah semakin sore saja. Harus sudah pulang lagi. Ngobrol dengan Mang Dede gak ada abisnya. Rame! Dari sana timbul kecintaan baru saya untuk Indonesia. Semakin banyak melakukan perjalanan, melihat dunia, semakin tumbuh pula cinta terhadap tanah air. Harapan Mang Dede adalah agar warga Indonesia semakin sadar bahwa pantai di Indonesia sangatlah kaya akan keindahan alamnya. Juga yang jelas ombaknya! Tetap jaga lingkungan dan kelestariannya. Jangan hanya eksis, tanpa memperhatikan kondisi sekitar.

Masih ingin ngobrol lagi, cerita-cerita lagi. Mungkin dilain waktu bisa kembali berjumpa dan cerita lagi, entah ngomongin pantai atau perjalanan Mang Dede.

Terimakasih Mang Dede, mutiara Cimaja yang mendunia!

Oia satu lagi deh. Dari obrolan tadi saya belajar bahwa tidak ada yang rugi dari mengerjakan sesuatu yang dicintai selagi itu positif. Lakukan terus saja, karena tidak ada yang lebih bahagia ketika melakukan apa yang kita sukai dan bisa membuahkan hasil untuk kehidupan kita, bahkan jika sampai di luar ekspektasi. Terus berkarya, terus menjalani irama kehidupan yang dicinta.

Sampai bertemu lagi Cimaja, semoga datang kesana bisa coba-coba menggoda ombak dengan papan selancar.

IMG_5119

IMG_5055